Tanjung Lesung Dinilai Berpotensi Menjadi Ruang Pemulihan Berbasis Wisata Alam
PATA Indonesia Dorong Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Tanjung Lesung
Kawasan wisata Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang, Banten, dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai ruang pemulihan atau sanctuary yang menawarkan ketenangan, kenyamanan, dan kedekatan dengan alam. Potensi tersebut dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap destinasi yang mendukung kesehatan mental dan keseimbangan hidup.
Baca Juga “Potensi Keindahan Alam Sumba Bisa jadi Destinasi Wisata Internasional“
Ketua Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter, Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono, mengatakan Indonesia memiliki sejumlah kawasan yang berpotensi menjadi ruang pemulihan. Menurutnya, Tanjung Lesung menjadi salah satu lokasi yang menonjol karena memiliki lingkungan alam yang masih terjaga serta akses yang relatif dekat dari Jakarta.
Darmono menjelaskan bahwa perubahan kondisi global, mulai dari perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik, hingga dampak perubahan iklim, telah memengaruhi pola perjalanan wisatawan. Banyak orang kini tidak hanya mencari tempat rekreasi, tetapi juga destinasi yang mampu memberikan rasa aman, tenang, dan kesempatan untuk memulihkan diri dari tekanan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kawasan yang berhasil menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan akan memiliki daya tarik yang semakin kuat di masa mendatang. Dalam konteks tersebut, Tanjung Lesung dinilai memiliki modal yang cukup karena menawarkan panorama pantai, kawasan hijau, serta suasana yang jauh dari kepadatan perkotaan.
Ia menambahkan bahwa kualitas lingkungan menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan wisatawan modern. Pantai yang bersih, hutan yang tetap lestari, terumbu karang yang sehat, dan budaya lokal yang terjaga menjadi elemen penting yang dapat meningkatkan nilai sebuah destinasi wisata.
Darmono menilai apresiasi wisatawan terhadap lingkungan yang berkualitas dapat menciptakan insentif ekonomi bagi pelaku usaha dan masyarakat setempat untuk terus menjaga kelestarian alam. Dengan demikian, aktivitas pariwisata tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga mendorong upaya konservasi secara berkelanjutan.
Menurutnya, model pengembangan wisata seperti ini menjadi semakin penting karena pariwisata berkelanjutan tidak lagi sekadar berorientasi pada jumlah kunjungan. Fokus utama bergeser pada kualitas pengalaman wisatawan, dampak positif bagi lingkungan, serta manfaat yang dirasakan masyarakat lokal.
Tanjung Lesung dinilai memiliki peluang untuk mengadopsi pendekatan tersebut. Kawasan ini dapat mengembangkan produk wisata berbasis alam, kesehatan, budaya, dan pengalaman yang memberikan nilai tambah bagi pengunjung tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Prospek pengembangan kawasan juga semakin terbuka dengan hadirnya akses Tol Serang–Panimbang yang saat ini berada dalam tahap penyelesaian. Infrastruktur tersebut diperkirakan akan memangkas waktu perjalanan menuju Tanjung Lesung dan meningkatkan konektivitas dari berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Kemudahan akses diharapkan mampu memperluas pasar wisata sekaligus mendorong investasi di sektor pariwisata. Namun, Darmono menegaskan bahwa pembangunan harus tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan sumber daya alam.
Ia berharap pengembangan Tanjung Lesung ke depan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, mulai dari peningkatan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, hingga pemberdayaan masyarakat sekitar. Pada saat yang sama, kelestarian lingkungan harus tetap menjadi fondasi utama pembangunan kawasan wisata tersebut.
Dengan dukungan infrastruktur yang semakin baik dan potensi alam yang masih terjaga, Tanjung Lesung berpeluang menjadi contoh destinasi wisata berkelanjutan di Indonesia. Kawasan ini tidak hanya menawarkan pengalaman berlibur, tetapi juga menghadirkan ruang pemulihan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan modern yang mencari keseimbangan antara aktivitas, kesehatan, dan kedekatan dengan alam.
Baca Juga “Kawasan savana di Gunung Rinjani rentan kebakaran pada musim kemarau“




Leave a Reply