lolstatistics.com -Institut Ilmu Pengetahuan Weizmann di Israel menyampaikan temuan tersebut pada Senin, 2 Februari. Penelitian ini memanfaatkan metode pengukuran mutakhir berbasis data gravitasi dan dinamika planet.
Selama puluhan tahun, ilmuwan mengandalkan enam pengukuran lama untuk menentukan ukuran Jupiter. Data tersebut berasal dari misi Voyager dan Pioneer milik NASA hampir 50 tahun lalu.
Kedua wahana mengirim sinyal radio saat melintas dekat Jupiter. Ilmuwan kemudian menghitung dimensi planet berdasarkan perubahan sinyal tersebut.
Metode lama menghasilkan estimasi yang akurat untuk masanya. Namun, ketidakpastian masih tersisa karena keterbatasan teknologi saat itu.
Penelitian terbaru menggunakan pendekatan yang lebih presisi dan konsisten. Tim peneliti menganalisis variasi gravitasi Jupiter secara mendalam.
Pendekatan ini memungkinkan pemodelan bentuk planet dengan resolusi lebih tinggi. Hasilnya menunjukkan diameter Jupiter sedikit lebih kecil dari estimasi lama.
Bentuk Jupiter juga terbukti lebih pipih akibat rotasi sangat cepat. Jupiter menyelesaikan satu rotasi kurang dari sepuluh jam.
Rotasi cepat menyebabkan penggelembungan di bagian ekuator. Efek ini kini terukur lebih akurat dibandingkan sebelumnya.
Para peneliti menilai temuan ini penting bagi ilmu planet. Data baru membantu memahami struktur internal Jupiter.
Baca juga:“Oppo Watch S Hadirkan Fitur Pemantau Kebugaran dan Kesehatan”
Data Wahana Juno Perbarui Pengukuran Ukuran dan Bentuk Jupiter
Studi terbaru mengungkap detail baru mengenai ukuran dan bentuk Jupiter. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy.
Tim ilmuwan memanfaatkan data dari wahana antariksa Juno milik NASA. Juno telah mengorbit Jupiter sejak tahun 2016.
Misi Juno diperpanjang pada tahun 2021. Perpanjangan ini memungkinkan pengaturan lintasan pengamatan yang lebih strategis.
Dalam lintasan baru, Juno melintas di belakang Jupiter dari sudut pandang Bumi. Posisi ini membuka peluang pengukuran atmosfer dan struktur planet lebih akurat.
Saat wahana bergerak di belakang Jupiter, sinyal radionya mengalami pembelokan. Atmosfer Jupiter yang padat memengaruhi arah dan kecepatan sinyal tersebut.
Ilmuwan menganalisis perubahan sinyal radio secara detail. Analisis ini digunakan untuk menghitung dimensi planet dengan presisi tinggi.
Metode tersebut memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan pengukuran lama. Pendekatan sebelumnya bergantung pada data misi puluhan tahun lalu.
Data baru menunjukkan ukuran Jupiter sedikit lebih kecil dari estimasi lama. Bentuk planet juga terkonfirmasi lebih pipih akibat rotasi cepat.
Pengukuran Baru Ungkap Jupiter Lebih Sempit dan Pipih dari Estimasi Lama
Para peneliti berhasil meningkatkan akurasi pengukuran ukuran Jupiter secara signifikan. Mereka melacak pembelokan sinyal radio dari wahana antariksa Juno.
Pembelokan sinyal terjadi saat Juno melintas di belakang Jupiter. Atmosfer padat planet tersebut memengaruhi jalur sinyal radio.
Dari perubahan sinyal itu, ilmuwan menghitung dimensi Jupiter dengan presisi tinggi. Metode ini melampaui teknik pengukuran sebelumnya.
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan ukuran yang terukur jelas. Jupiter tercatat sekitar delapan kilometer lebih sempit di bagian ekuator.
Di wilayah kutub, planet ini sekitar dua puluh empat kilometer lebih pipih. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan estimasi lama.
Temuan ini memberikan dampak penting bagi ilmu planet. Model struktur internal Jupiter kini dapat diperbarui secara lebih akurat.
Ilmuwan memperoleh gambaran baru tentang dinamika bagian dalam planet. Data ini membantu menjelaskan pergerakan massa dan tekanan internal.
Penelitian juga memberi wawasan mengenai angin ekstrem di Jupiter. Angin tersebut dikenal sebagai salah satu yang terkuat di tata surya.
Baca juga:“Harga Emas Antam Turun Tajam, Kini Rp2,844 Juta per Gram”




Leave a Reply