lolstatistics.com Perusahaan kedirgantaraan SpaceX mengajukan izin kepada otoritas Amerika Serikat untuk proyek pusat data orbital.
Proyek ini dirancang menggunakan satu juta satelit yang beroperasi di orbit rendah Bumi.
SpaceX menyampaikan permohonan tersebut kepada Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat atau FCC.
Permohonan itu mencakup rencana peluncuran sistem satelit berskala sangat besar untuk kebutuhan komputasi.
Berdasarkan dokumen permohonan, SpaceX ingin membangun pusat data yang beroperasi langsung di orbit.
Pusat data orbital ini akan memanfaatkan energi surya sebagai sumber daya utama.
Laporan Engadget pada Minggu, 1 Februari, mengungkap detail dari dokumen yang diperoleh PCMag.
Dokumen tersebut menjelaskan fungsi pusat data untuk mendukung kebutuhan kecerdasan buatan atau AI.
SpaceX menyatakan sistem ini akan menyediakan kapasitas komputasi dalam skala besar.
Layanan tersebut ditujukan untuk memproses data dengan latensi rendah dan efisiensi tinggi.
Dalam dokumen itu, SpaceX meminta izin mengoperasikan hingga satu juta satelit.
Satelit akan ditempatkan dalam cangkang orbit sempit dengan rentang sekitar 50 kilometer.
Pendekatan orbit sempit bertujuan menjaga stabilitas jaringan dan efisiensi komunikasi antarsatelit.
Baca juga:”80 jenazah longsor Cisarua telah dievakuasi hingga hari ini”
SpaceX Nilai Pusat Data Orbital Solusi Efisien untuk Komputasi AI
SpaceX menilai pusat data orbital sebagai solusi paling efisien untuk kebutuhan komputasi AI global.
Penilaian ini tercantum dalam dokumen pengajuan izin kepada otoritas Amerika Serikat.
Perusahaan kedirgantaraan tersebut menyebut permintaan daya komputasi AI terus meningkat pesat.
SpaceX menilai infrastruktur berbasis orbit dapat menjawab kebutuhan tersebut secara berkelanjutan.
Dalam dokumen pengajuan, SpaceX menyatakan pusat data orbital memanfaatkan tenaga surya sepenuhnya.
Sumber energi ini dinilai mampu menekan biaya operasional dan perawatan secara signifikan.
SpaceX menjelaskan lingkungan luar angkasa mendukung efisiensi sistem komputasi berskala besar.
Suhu alami di orbit membantu proses pendinginan perangkat pusat data.
Menurut laporan TechCrunch, SpaceX mengajukan izin meluncurkan konstelasi satelit bertenaga surya.
Konstelasi tersebut dirancang mencakup hingga satu juta satelit.
Satelit-satelit ini akan berfungsi sebagai infrastruktur utama pusat data AI di orbit rendah Bumi.
Sistem tersebut dirancang untuk menyediakan kapasitas komputasi dalam jumlah besar.
SpaceX menilai pendekatan ini lebih efisien dibanding pusat data berbasis darat.
Pusat data konvensional membutuhkan listrik besar dan sistem pendinginan mahal.
Lonjakan Jumlah Satelit Picu Kekhawatiran Polusi Orbit dan Regulasi
Jumlah satelit buatan manusia di orbit Bumi terus meningkat signifikan.
Peningkatan ini memicu kekhawatiran serius terkait polusi antariksa dan puing-puing orbit.
Badan Antariksa Eropa atau ESA mencatat sekitar 15.000 satelit kini mengorbit Bumi.
ESA menilai jumlah tersebut sudah menimbulkan risiko tabrakan dan akumulasi sampah antariksa.
Puing-puing orbit dapat membahayakan satelit aktif dan misi luar angkasa masa depan.
Risiko ini meningkat seiring bertambahnya konstelasi satelit komersial.
SpaceX menjadi salah satu operator dengan jumlah satelit terbesar di orbit.
Perusahaan ini baru-baru ini mencapai tonggak peluncuran satelit Starlink ke-11.000.
Starlink dirancang untuk menyediakan layanan internet berbasis satelit secara global.
Konstelasi ini beroperasi di orbit rendah Bumi dengan ribuan unit aktif.
Awal bulan ini, Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat atau FCC menyetujui permintaan SpaceX.
Persetujuan tersebut mencakup peluncuran tambahan 7.500 satelit Starlink.
Persetujuan ini menyusul peluncuran 7.500 satelit Starlink sebelumnya pada 2022.
FCC menilai permohonan tersebut memenuhi persyaratan teknis dan regulasi.
Baca juga:“TNI terus bergerak bantu pemulihan Aceh pasca-bencana”




Leave a Reply