lolstatistics -Kebutuhan perusahaan terhadap layanan sovereign cloud terus meningkat. Perkembangan digital dan perhatian pada keamanan data menjadi pemicu. Kepatuhan regulasi juga semakin ketat. Sebuah riset EY mengungkap fakta menarik.
Sebanyak 79 persen organisasi di Indonesia memprioritaskan inisiatif sovereign cloud. Mereka menjadikannya bagian strategi teknologi utama. Fokusnya pada keamanan data, kepatuhan regulasi, dan kontrol infrastruktur digital. Sejalan dengan kebutuhan itu, PT Arupa Cloud Nusantara menjalin kerja sama dengan Civo. Keduanya menghadirkan platform sovereign cloud berbasis Kubernetes. Platform ini dirancang untuk pasar Indonesia.
“Indonesia merupakan pasar digital yang berkembang sangat pesat. Organisasi kini semakin membutuhkan infrastruktur cloud yang tidak hanya kuat secara teknologi. Mereka juga butuh transparansi dan relevansi lokal,” ujar Mark Boost, CEO Civo, dalam rilis pers, Minggu (24/5/2026). Civo adalah penyedia cloud asal Inggris yang fokus pada Kubernetes.
Riset EY juga mencatat bahwa 68 persen perusahaan Indonesia berencana meningkatkan anggaran cloud pada 2027. Sovereign cloud menjadi jawaban atas kekhawatiran data residensi pasca terbitnya UU Pelindungan Data Pribadi (PDP) pada 2024. Kolaborasi Arupa-Civo diharapkan memperkuat ekosistem digital nasional. Dengan kontrol penuh di dalam negeri, perusahaan dapat berinovasi tanpa takut melanggar regulasi. Langkah ini juga mendukung percepatan transformasi digital yang aman dan berdaulat.
Baca juga:iPhone 19 Pro Dikabarkan Usung Desain Layar Lengkung di Empat Sisi
Arupa dan Civo Hadirkan Platform Kubernetes
Kebutuhan perusahaan terhadap layanan sovereign cloud terus meningkat. Perkembangan digital dan keamanan data jadi pemicu utama. Kepatuhan regulasi juga semakin ketat. Berdasarkan riset EY, 79 persen organisasi di Indonesia memprioritaskan inisiatif sovereign cloud. Angka ini menunjukkan tingginya kesadaran akan kontrol infrastruktur digital.
Sovereign cloud adalah layanan komputasi awan yang mematuhi hukum setempat. Indonesia memiliki UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) sejak 2024. Perusahaan wajib menyimpan data sensitif di dalam negeri. Kebutuhan ini mendorong PT Arupa Cloud Nusantara bekerja sama dengan Civo. Keduanya menghadirkan platform sovereign cloud berbasis Kubernetes.
Platform ini menggunakan pendekatan cloud-native. Teknologi Kubernetes mengelola aplikasi berbasis container. Layanan managed Kubernetes dan infrastruktur komputasi dirancang untuk penyediaan lebih cepat. Perusahaan bisa mempercepat penyebaran aplikasi. Mereka juga meningkatkan skalabilitas dan efisiensi operasional.
“Indonesia merupakan pasar digital yang berkembang pesat. Organisasi butuh infrastruktur cloud yang kuat, transparan, dan relevan secara lokal,” ujar Mark Boost, CEO Civo, dalam rilis pers, Minggu (24/5/2026). “Bersama Arupa, kami hadirkan platform sovereign cloud dengan fleksibilitas dan kontrol lebih besar,” tambahnya.
Riset EY juga mencatat 68 persen perusahaan Indonesia berencana naikkan anggaran cloud pada 2027. Kolaborasi Arupa-Civo memperkuat ekosistem digital nasional. Dengan kontrol penuh di dalam negeri, perusahaan dapat berinovasi tanpa melanggar regulasi. Langkah ini mendukung percepatan transformasi digital yang aman, berdaulat, dan kompetitif.
Kebutuhan Sovereign Cloud di Indonesia Meningkat
Kebutuhan perusahaan terhadap sovereign cloud terus meningkat. Perkembangan digital dan keamanan data jadi pemicu. Kepatuhan regulasi juga makin ketat. Riset EY menunjukkan 79 persen organisasi di Indonesia memprioritaskan inisiatif sovereign cloud. Angka ini bukti kesadaran kontrol infrastruktur digital.
Sovereign cloud adalah layanan komputasi awan yang patuh hukum setempat. Indonesia punya UU Pelindungan Data Pribadi (PDP) sejak 2024. Perusahaan wajib simpan data sensitif di dalam negeri. Kebutuhan ini dorong PT Arupa Cloud Nusantara kerja sama dengan Civo. Keduanya hadirkan platform sovereign cloud berbasis Kubernetes. Dalam kerja sama ini, Arupa sediakan dukungan lokal, layanan implementasi, dan pendampingan kepatuhan regulasi. Arupa akan bantu pelanggan adopsi Kubernetes sesuai kebutuhan bisnis lokal.
Mark Boost, CEO Civo, mengatakan, “Indonesia pasar digital berkembang pesat. Organisasi butuh infrastruktur cloud kuat, transparan, dan relevan lokal.” CEO Arupa Reza Kertadjaja menambahkan, “Kami gabungkan keahlian lokal dan platform sovereign cloud. Kami ingin bantu perusahaan bangun kapabilitas digital transparan dan selaras ekosistem Indonesia.”
Platform ini gunakan pendekatan cloud-native. Teknologi Kubernetes hadirkan layanan managed dan infrastruktur komputasi. Perusahaan bisa percepat penyebaran aplikasi, tingkatkan skalabilitas, dan optimalkan efisiensi. Riset EY juga catat 68 persen perusahaan rencana naikkan anggaran cloud pada 2027. Kolaborasi Arupa-Civo perkuat ekosistem digital nasional. Dengan kontrol penuh dalam negeri, inovasi berjalan tanpa langgar regulasi. Langkah ini dukung transformasi digital aman, berdaulat, dan kompetitif.
Baca juga:Meta, Snap, dan Roblox Janji Perkuat Pelindungan Anak di Inggris




Leave a Reply