lolstatistics.com -Meta dilaporkan bersiap merilis arloji pintar pertamanya tahun ini. Langkah ini menandai ekspansi perusahaan ke pasar perangkat wearable. Produk tersebut disebut mengusung nama proyek “Malibu 2”.
Laporan Engadget mengutip The Information yang menyebut Meta menghidupkan kembali pengembangan smartwatch tersebut. Proyek ini sebelumnya sempat tertunda dalam restrukturisasi internal perusahaan. Kini, Meta kembali memprioritaskan lini perangkat keras berbasis kecerdasan buatan.
Smartwatch Malibu 2 dikabarkan akan dibekali fitur Meta AI. Teknologi ini memungkinkan interaksi berbasis asisten cerdas langsung dari pergelangan tangan. Integrasi AI menjadi nilai tambah di tengah persaingan pasar wearable global.
Selain fitur kecerdasan buatan, perangkat ini akan memiliki kemampuan pemantauan kesehatan. Fitur tersebut mencakup pelacakan aktivitas fisik dan indikator kebugaran dasar. Meta ingin menghadirkan perangkat yang relevan untuk gaya hidup aktif.
Masuknya Meta ke segmen smartwatch memperluas ekosistem produknya. Perusahaan sebelumnya telah merilis perangkat seperti kacamata pintar hasil kolaborasi dengan Ray-Ban. Strategi ini menunjukkan ambisi Meta memperkuat kehadiran di ranah perangkat terhubung.
Pasar smartwatch saat ini didominasi beberapa pemain besar. Namun, inovasi berbasis AI membuka peluang diferensiasi produk baru. Meta berpotensi memanfaatkan basis pengguna platform sosialnya untuk integrasi layanan.
Baca juga:“Meta Tutup Messenger.com dan Alihkan Pesan ke Facebook”
Meta Uji Smartwatch dengan Sistem Android dan Kamera Lepas Sejak 2021
Meta sebelumnya dikabarkan mengembangkan arloji pintar berbasis sistem operasi Android versi open source sejak 2021. Perangkat ini menjadi awal rencana perusahaan memasuki pasar wearable.
Sejumlah bocoran menyebut smartwatch tersebut berpotensi dilengkapi kamera yang bisa dilepas. Bahkan, Meta dikabarkan sempat menguji model dengan tiga kamera. Inovasi ini menunjukkan ambisi tinggi perusahaan dalam desain perangkat mandiri.
Sumber informasi dari laporan sebelumnya mengungkap pengujian fitur kamera untuk interaksi sosial dan video call. Meta ingin smartwatch tidak hanya sebagai alat pemantau kesehatan, tetapi juga mendukung komunikasi langsung.
Penggunaan sistem Android open source memberikan fleksibilitas dalam pengembangan aplikasi. Hal ini memungkinkan integrasi fitur Meta AI dan ekosistem layanan lainnya. Strategi ini sejalan dengan upaya Meta memperluas perangkat keras berbasis software miliknya.
Meskipun proyek sempat tertunda, perkembangan terbaru proyek Malibu 2 menunjukkan perangkat ini kembali menjadi prioritas. Fitur AI, pemantauan kesehatan, dan desain kamera fleksibel menjadi fokus utama.
Dengan pengalaman pengujian sejak 2021, Meta memiliki data penting untuk menyesuaikan desain dan fungsi smartwatch. Pendekatan ini diharapkan memperkuat daya saing terhadap smartwatch dari Apple, Samsung, dan Google.
Smartwatch 2022 Demi Fokus pada Perangkat Wearable Lain
Pada 2022, Meta menghentikan sementara proyek arloji pintar untuk mengalihkan fokus ke perangkat wearable lain. Keputusan ini terkait strategi efisiensi dan prioritas investasi Reality Labs.
Penundaan pengembangan smartwatch menjadi bagian dari penghematan belanja di divisi tersebut. Pada Januari 2022, Meta memutus hubungan kerja lebih dari 1.000 karyawan Reality Labs akibat tekanan kerugian. Langkah ini bertujuan menyeimbangkan biaya dan arah inovasi.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, menegaskan investasi perusahaan akan lebih difokuskan pada kacamata pintar dan perangkat wearable lainnya. Ia menilai segmen ini memiliki potensi pasar lebih cepat berkembang dibandingkan smartwatch.
Saat ini, lini wearable Meta mencakup headset realitas virtual dan kacamata pintar. Produk seperti Meta Ray-Ban meraih respons positif di Amerika Serikat, memperkuat strategi perusahaan di pasar perangkat keras.
Meski proyek smartwatch tertunda, perusahaan tetap mempertahankan rencana pengembangan jangka panjang. Fokus pada perangkat sukses saat ini memungkinkan Meta menyiapkan teknologi dan integrasi software lebih matang sebelum kembali ke arloji pintar.
Keputusan efisiensi juga berdampak pada alokasi sumber daya. Divisi Reality Labs kini menekankan pengembangan produk dengan potensi adopsi tinggi dan respons pasar positif. Strategi ini diharapkan meningkatkan profitabilitas dan daya saing perusahaan.




Leave a Reply