lolstatistics – Senator Partai Republik Amerika Serikat, Bernie Moreno, mengumumkan akan memperkenalkan rancangan undang-undang komprehensif pada bulan ini. Regulasi tersebut bertujuan untuk menutup pasar Negeri Paman Sam dari kendaraan Tiongkok, termasuk perangkat keras, perangkat lunak, dan kemitraan. Disitat dari Carnewschina, Senator Moreno menyatakan regulasi ini akan lebih ketat dibanding peraturan pemerintahan Joe Biden yang diperkenalkan pada Januari 2025. Regulasi Biden saat ini melarang penjualan mobil China karena kekhawatiran keamanan nasional terkait pengumpulan data.
🦠 Metafora ‘Kanker’ dan ‘Kemoterapi’
Moreno membuat perbandingan tajam antara sektor otomotif dan telekomunikasi, yang secara eksplisit merujuk kepada larangan AS terhadap Huawei. “Kami tidak akan mengizinkan produsen mobil Tiongkok masuk ke pasar ini. Kami akan mencegah ‘kanker’ masuk ke pasar kami, dan kami akan membutuhkan negara-negara lain untuk melakukan kemoterapi,” jelas Moreno.
Metafora ini menunjukkan bahwa Moreno menganggap kehadiran mobil China di AS sebagai ancaman yang sangat serius, setara dengan penyakit ganas yang harus diisolasi dan dimusnahkan. Ia juga mengisyaratkan bahwa AS akan menekan negara sekutu untuk ikut melarang mobil China.
🚘 Kritik terhadap Kemitraan Waymo-Geely
Sikap agresif Senator tersebut mencerminkan pengawasannya baru-baru ini terhadap perusahaan-perusahaan Amerika. Pada Februari, Moreno mengkritik Waymo selama sidang Senat karena kemitraannya dengan Geely, perusahaan induk Zeekr asal Tiongkok. Waymo, anak perusahaan Alphabet (induk Google), menggunakan kendaraan listrik Zeekr untuk armada taksi otonomnya di AS.
Moreno menilai kemitraan ini sebagai “celah” yang memungkinkan teknologi China masuk ke infrastruktur transportasi AS. Ia mendesak Departemen Perdagangan untuk menyelidiki apakah kemitraan tersebut melanggar aturan keamanan nasional.
📋 Isi RUU yang Diusulkan
Meskipun teks lengkap RUU belum dirilis, berdasarkan pernyataan Moreno, regulasi ini diperkirakan mencakup:
- Larangan penjualan semua kendaraan penumpang yang diproduksi di China, terlepas dari mereknya (termasuk Tesla yang dibuat di Shanghai)
- Larangan perangkat keras dan komponen kendaraan China (seperti baterai, ECU, sensor)
- Larangan perangkat lunak yang dikembangkan oleh perusahaan China (termasuk sistem navigasi, ADAS, dan fitur connected car)
- Pembatasan kemitraan antara perusahaan AS dan China di sektor otomotif (termasuk R&D, produksi bersama, dan lisensi teknologi)
- Sanksi bagi perusahaan AS yang melanggar (denda hingga pencabutan izin usaha)
🌏 Dampak bagi Pasar Global
Jika RUU ini disahkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh produsen China seperti BYD, Geely, dan Nio, tetapi juga oleh:
- Perusahaan AS yang memiliki rantai pasok China (misalnya, Ford dan GM menggunakan baterai CATL)
- Perusahaan Eropa dan Jepang yang memproduksi mobil di China untuk ekspor ke AS (Volvo, BMW)
- Konsumen AS yang akan kehilangan akses ke mobil listrik yang lebih terjangkau
Moreno tampaknya mengabaikan fakta bahwa banyak mobil “AS” menggunakan komponen China. Misalnya, Ford F-150 Lightning menggunakan baterai dari CATL yang diproduksi di Michigan melalui lisensi teknologi. Larangan total dapat mengganggu produksi mobil AS sendiri.
📌 Langkah Selanjutnya
RUU ini akan diperkenalkan dalam beberapa minggu ke depan. Untuk menjadi undang-undang, RUU harus disetujui oleh DPR dan Senat, kemudian ditandatangani Presiden. Mengingat sentimen anti-China yang kuat di Kongres AS, RUU ini memiliki peluang besar untuk lolos, meskipun mungkin akan ada perubahan substansial selama proses negosiasi.
Pemerintah China kemungkinan akan merespons dengan langkah serupa, misalnya melarang impor mobil AS atau membatasi akses pasar untuk perusahaan teknologi AS. Perang dagang sektor otomotif antara dua ekonomi terbesar dunia semakin mendekati kenyataan.
“Baca Juga : Transportasi Umum Pakistan Gratis Imbas Harga BBM“
RUU Larangan Mobil China di AS Dapat Dukungan Produsen Lokal, Kedutaan China Kecam Keras
Rancangan undang-undang yang diusulkan Senator Bernie Moreno untuk menutup pasar AS dari kendaraan China mendapat dukungan kuat dari produsen mobil AS dan kelompok perdagangan. Baru-baru ini, organisasi perdagangan otomotif utama mendesak pemerintah untuk mempertahankan hambatan ketat terhadap produsen mobil Tiongkok, dan menekankan perlunya melindungi pasar domestik.
🇺🇸 Dukungan dari Industri Otomotif AS
Aliansi untuk Inovasi Otomotif (Alliance for Automotive Innovation), yang mewakili produsen mobil asing dan domestik besar seperti Ford, GM, Stellantis, Toyota, dan Volkswagen, menyatakan bahwa aturan ketat diperlukan untuk mencegah “banjirnya mobil China yang didukung subsidi.” Kelompok tersebut mengklaim bahwa produsen China memiliki keunggulan biaya tidak adil berkat bantuan besar dari pemerintah China.
“Tanpa tindakan yang tegas, industri otomotif AS berisiko kehilangan pangsa pasar yang signifikan, mirip dengan yang terjadi pada sektor panel surya,” demikian pernyataan kelompok tersebut.
🇨🇳 Kecaman Keras dari Kedutaan China
Langkah tersebut menuai kecaman keras dari Kedutaan Besar China di Washington. Dalam sebuah pernyataan, Kedutaan Besar menuduh Amerika Serikat terlibat dalam ‘proteksionisme perdagangan’ dan menetapkan ‘kebijakan subsidi yang diskriminatif’. Pihak Kedutaan beralasan bahwa rancangan undang-undang yang diusulkan melanggar prinsip-prinsip persaingan yang adil.
“China selalu menganjurkan perdagangan bebas dan persaingan yang adil. Tindakan AS ini tidak hanya merugikan produsen China tetapi juga konsumen AS yang akan kehilangan akses ke kendaraan listrik berkualitas dengan harga terjangkau,” bunyi pernyataan Kedutaan China.
📊 Poin-Poin Kontroversi
Berikut poin-poin utama kontroversi dalam RUU yang diusulkan:
| Aspek | Argumen Pendukung (AS) | Argumen Penentang (China) |
|---|---|---|
| Keamanan nasional | Mobil China dapat mengumpulkan data sensitif dan mengirimkannya ke pemerintah China | Tuduhan tidak berdasar, tidak ada bukti konkret |
| Subsidi | Produsen China mendapat subsidi besar dari pemerintah, tidak fair | AS juga memberikan subsidi besar untuk mobil listrik lewat Inflation Reduction Act |
| Kemitraan | Kemitraan dengan perusahaan China membuka celah bagi teknologi China masuk ke AS | Kemitraan adalah praktik bisnis normal yang menguntungkan kedua belah pihak |
| Dampak ekonomi | Melindungi lapangan kerja di sektor otomotif AS | Akan memicu perang dagang yang merugikan kedua negara |
🌏 Respons Global
Beberapa sekutu AS, seperti Uni Eropa dan Jepang, memiliki pandangan berbeda. Uni Eropa saat ini menerapkan tarif impor mobil China sebesar 10% (standar WTO), tanpa larangan total. Jepang bahkan mengundang BYD untuk membangun pabrik di negaranya.
Moreno, dalam pernyataannya, mengatakan akan “membutuhkan negara-negara lain untuk melakukan kemoterapi,” mengindikasikan AS akan menekan sekutu untuk mengikuti jejaknya. Namun analis meragukan hal ini akan efektif mengingat China adalah pasar ekspor utama bagi produsen mobil Jerman dan Jepang.
📌 Langkah Selanjutnya
RUU ini akan diperkenalkan di Senat AS dalam beberapa minggu. Jika lolos, kemungkinan akan memicu pembalasan dari China, seperti:
- Menaikkan tarif impor mobil AS (saat ini 15%, bisa dinaikkan ke 25% atau lebih)
- Membatasi akses pasar untuk perusahaan teknologi AS (seperti Apple, Tesla) di China
- Mengalihkan ekspor mobil China ke pasar lain (Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin)
Perang dagang sektor otomotif antara dua ekonomi terbesar dunia semakin mendekati kenyataan. Konsumen AS dan China mungkin akan merasakan dampaknya dalam bentuk harga mobil yang lebih mahal dan pilihan yang lebih sedikit. Dunia akan terus memantau perkembangan RUU kontroversial ini.
“Baca Juga : BYD Dorong Ekspansi Global dengan Strategi Menguntungkan“




Leave a Reply