Paparan Polusi Udara Ancam Kesehatan Pernapasan dan Otak Anak
Paparan polusi udara menjadi salah satu ancaman kesehatan bagi anak karena dapat memengaruhi sistem pernapasan hingga perkembangan otak. Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof. Dr. R. Budi Haryanto mengatakan anak termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak pencemaran udara.
Menurut Prof. Budi, risiko tersebut berkaitan dengan kondisi anak yang masih berada dalam tahap pertumbuhan. Sistem imunitas mereka belum berkembang sepenuhnya sehingga lebih mudah terdampak oleh paparan polutan.
Anak Lebih Rentan karena Sistem Tubuh Masih Berkembang
Aktivitas fisik anak juga membuat mereka menghirup udara dalam jumlah lebih besar. Saat bermain, berlari, atau bersepeda, frekuensi pernapasan meningkat sehingga volume udara yang masuk ke paru-paru turut bertambah.
Prof. Budi menjelaskan bahwa seseorang dalam kondisi normal dapat bernapas sekitar 20 kali dalam satu menit. Ketika melakukan aktivitas berat, frekuensi tersebut dapat meningkat hingga sekitar 30 kali atau bahkan lebih.
baca juga: Brand Eun Jung T-ara Debut di Indonesia, Padukan Karya Tas Korea dengan Koleksi LAKON
Kondisi itu membuat jumlah udara yang masuk ke tubuh meningkat. Jika udara yang dihirup mengandung polutan berbahaya, paparan terhadap zat pencemar juga dapat bertambah.
“Bayangkan kalau sekali bernapas normal saja itu sekitar 500 ml udara yang masuk, atau katakanlah 9 meter kubik selama satu menit. Kalau itu frekuensinya semakin cepat ya semakin banyak dua kali lipat, tiga kali lipat,” kata Prof. Budi dalam acara International Council on Clean Transportation (ICCT) di Jakarta, Selasa.
Ia menilai tingginya paparan polutan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Dampaknya tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga dapat dialami anak-anak.
PM2.5 Dapat Menyebar dari Paru-paru ke Seluruh Tubuh
Menurut Prof. Budi, dampak polusi terhadap kesehatan bergantung pada jenis dan jumlah polutan yang masuk ke tubuh. Salah satu polutan yang perlu mendapat perhatian adalah partikulat halus PM2.5.
Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Dalam kondisi tertentu, partikel PM2.5 juga dapat menembus jaringan paru-paru dan masuk ke aliran darah.
Selanjutnya, polutan yang masuk ke peredaran darah dapat terbawa menuju berbagai organ. Paparan dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk asma, pneumonia, bronkitis, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
“Terus bronkitis, gangguan fungsi paru itu terutama kalau sudah long term, terus kemudian ini akan meningkat menjadi penyakit-penyakit paru yang PPOK,” ujar Prof. Budi.
Risiko tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kualitas udara, terutama bagi anak yang menghabiskan banyak waktu untuk beraktivitas di luar ruangan.
Polusi Udara Berisiko Memengaruhi Fungsi Otak Anak
Dampak pencemaran udara tidak hanya berkaitan dengan paru-paru. Prof. Budi juga menjelaskan adanya risiko terhadap sistem saraf pusat ketika tubuh terpapar polutan kimia tertentu.
Paparan tersebut berpotensi mengganggu fungsi otak dan berkaitan dengan berbagai gangguan neurologis. Dampak yang disebutkan antara lain penurunan fungsi kognitif, demensia, Alzheimer, hingga stroke.
Pada anak, gangguan terhadap perkembangan sistem saraf menjadi perhatian karena otak masih mengalami proses pertumbuhan. Prof. Budi menyebut paparan polusi juga perlu dikaji kaitannya dengan kemampuan kognitif dan prestasi belajar anak.
“Kalau kita teliti itu kaitannya nanti dengan penurunan IQ, jadi kalau dilihat rapotnya itu tidak tinggi-tinggi nilainya tingkat prestasi belajar itu juga terganggu,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa gangguan pada sistem saraf pusat dapat memengaruhi berbagai fungsi yang berkaitan dengan otak.
Pengendalian Polusi Penting untuk Melindungi Anak
Prof. Budi menilai tingginya paparan polusi udara perlu menjadi perhatian karena anak menghadapi risiko kesehatan sejak masa pertumbuhan. Pengendalian sumber pencemar menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi paparan tersebut.
Risiko kesehatan juga tidak hanya ditentukan oleh keberadaan polutan. Jenis zat pencemar, konsentrasi, durasi paparan, serta kondisi individu dapat memengaruhi dampak yang ditimbulkan.
Karena itu, perlindungan terhadap anak membutuhkan upaya berkelanjutan untuk memperbaiki kualitas udara. Langkah tersebut penting untuk menekan risiko gangguan pernapasan sekaligus menjaga perkembangan fungsi kognitif dan kesehatan otak dalam jangka panjang.
baca juga: Kiat lindungi anak dari paparan polusi udara menurut Kemenkes




Leave a Reply