Menpar Soroti Pentingnya Konektivitas Udara untuk Perkuat Daya Saing KEK Tanjung Kelayang
Penerbangan Internasional dan Investasi Berkelanjutan Dorong Pariwisata Belitung
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa konektivitas udara menjadi faktor utama dalam memperkuat daya saing Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang di Pulau Belitung. Menurutnya, akses transportasi yang semakin baik akan memperluas peluang kunjungan wisatawan mancanegara sekaligus meningkatkan minat investasi di kawasan wisata unggulan tersebut.
Dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin, Widiyanti menyampaikan bahwa KEK Tanjung Kelayang memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai pusat investasi pariwisata, tetapi juga sebagai wajah pengembangan destinasi berkelanjutan di Belitung. Kawasan ini menggabungkan potensi wisata bahari, geowisata, budaya, kuliner, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
“KEK ini bukan hanya pintu masuk investasi, tetapi juga etalase pariwisata Belitung yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan, pelestarian budaya, wisata bahari, geowisata, kuliner, serta penguatan UMKM lokal,” ujar Widiyanti.
Ia menjelaskan bahwa konektivitas menjadi fondasi penting agar Belitung mampu bersaing dengan destinasi wisata internasional lainnya. Kemudahan akses akan mempersingkat waktu perjalanan wisatawan sekaligus membuka peluang lebih besar bagi investor untuk mengembangkan berbagai fasilitas pendukung pariwisata.
Salah satu langkah penting yang dinilai mampu memperkuat aksesibilitas adalah hadirnya rute penerbangan langsung Scoot yang menghubungkan Singapura dengan Belitung. Menurut Widiyanti, penerbangan tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan konektivitas internasional menuju KEK Tanjung Kelayang.
Rute langsung dari Singapura tidak hanya memudahkan wisatawan asing mengunjungi Belitung, tetapi juga memperkuat posisi daerah tersebut sebagai salah satu destinasi prioritas nasional. Belitung selama ini dikenal memiliki kekayaan wisata bahari, kawasan geowisata, budaya lokal, wisata gastronomi, hingga desa wisata berbasis masyarakat yang terus berkembang.
Direktur PT Belitung Pantai Intan sekaligus pengelola KEK Tanjung Kelayang, Daniel Alexander Napitupulu, mengatakan kawasan yang kini dipasarkan dengan nama Tanjung Kelayang Reserve terus memperkuat identitasnya sebagai destinasi wisata premium berbasis konservasi dan pembangunan rendah emisi karbon.
Menurut Daniel, berbagai investasi baru terus mengalir ke kawasan seluas 324,4 hektare tersebut. Pengembangan dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan agar pertumbuhan sektor pariwisata tetap selaras dengan pelestarian lingkungan.
baca juga: Pemprov-BI gelar “Explore Babel” di KEK Tanjung Kelayang Belitung
Salah satu proyek yang sedang berjalan ialah pembangunan resor berkonsep low density. Pengembang memanfaatkan material yang tersedia di dalam kawasan untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus menjaga karakter alami destinasi. Selain itu, pengelola juga mengembangkan wisata minat khusus yang menyasar wisatawan dengan kebutuhan pengalaman berbeda.
Pengembangan fasilitas olahraga juga menjadi bagian dari strategi meningkatkan daya tarik kawasan. Setelah lapangan pickleball mendapat sambutan positif dari wisatawan, pengelola berencana menambah satu lapangan tenis, satu lapangan pickleball baru, serta satu lapangan padel.
Di sisi lain, KEK Tanjung Kelayang juga akan menghadirkan pusat kebugaran yang dibangun di area desa dalam kawasan. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkaya pilihan aktivitas wisata sekaligus mendukung konsep wellness tourism yang semakin diminati wisatawan global.
Investasi pada sektor wisata bahari juga terus berkembang. Sejumlah pelaku usaha menambah armada kapal wisata yang tidak hanya berfungsi sebagai transportasi antarpulau, tetapi juga menawarkan pengalaman rekreasi seperti makan malam di atas kapal dan pelayaran menikmati matahari terbenam atau sunset cruise. Konsep tersebut diharapkan mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan di Belitung.
Komitmen terhadap konservasi tetap menjadi salah satu kekuatan utama kawasan ini. Dari total luas 324,4 hektare, sekitar 50 persen area dipertahankan sebagai kawasan konservasi yang dikelola bersama ahli biologi tetap. Berbagai program pelestarian dilakukan secara berkala untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Kawasan konservasi tersebut menjadi habitat sejumlah satwa langka seperti trenggiling, tarsius, kancil, capung endemik, hingga elang laut. Dari sisi flora, kawasan ini menjadi rumah bagi tanaman endemik Hopea bilitonensis atau pohon pelepah, anggrek hantu (ghost orchid), serta jamur pelawan yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Daniel juga menegaskan bahwa seluruh kebutuhan air di kawasan dipenuhi melalui sistem penampungan air hujan tanpa memanfaatkan air tanah. Kebijakan tersebut diterapkan untuk mengurangi risiko penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah yang banyak terjadi di sejumlah wilayah pesisir.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan KEK Tanjung Kelayang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Dengan dukungan konektivitas udara yang semakin kuat, investasi yang terus bertambah, serta komitmen terhadap konservasi, kawasan ini diharapkan semakin mampu menarik wisatawan dan investor sekaligus memperkuat posisi Belitung sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia.
baca juga: 14 Rekomendasi Tempat Makan Murah Meriah di Fatmawati 2026, Surga Kuliner Kaki Lima Jakarta Selatan




Leave a Reply