IDAI Jelaskan Deteksi Dini Stunting melalui Kurva Pertumbuhan WHO
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa risiko stunting pada anak dapat dikenali sejak dini melalui pemantauan pertumbuhan secara rutin. Orang tua dapat menggunakan kurva pertumbuhan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melihat perubahan pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.
Pemantauan yang dilakukan secara berkala memungkinkan tenaga kesehatan menemukan tanda penyimpangan pertumbuhan sebelum kondisinya berkembang lebih berat. Deteksi tersebut juga membantu menentukan intervensi yang sesuai, mulai dari pemenuhan nutrisi hingga rujukan medis.
Pemantauan Pertumbuhan Menilai Perubahan Anak Secara Berkala
Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. I Gusti Ayu Trisna Windiani, Sp.A., Subsp. T.K.P.S.(K), mengatakan pemantauan pertumbuhan harus dilakukan sebagai proses berkelanjutan.
Menurut Trisna, pemantauan tidak hanya berupa penimbangan berat badan. Proses tersebut mencakup pengukuran, pencatatan, plotting, serta interpretasi hasil pengukuran secara berkala.
baca juga: Joanna Alexandra Tampil Romantis di Hari Pernikahan, Kenakan Gaun Pink Rancangan Dua Desainer Lokal
Parameter yang perlu diperhatikan meliputi berat badan, panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala. Tenaga kesehatan kemudian dapat membandingkan hasil pengukuran tersebut dengan standar pertumbuhan yang sesuai.
“Dengan melakukan pemantauan, kita bisa menemukan risiko penyimpangan pertumbuhan. Kita bisa menilai arah pertumbuhan anak dari waktu ke waktu, bukan hanya sekali ukur,” kata Trisna dalam seminar daring IDAI, Selasa.
Pendekatan berdasarkan tren pertumbuhan penting karena satu hasil pengukuran belum tentu menggambarkan kondisi anak secara menyeluruh. Perubahan pola pertumbuhan dari waktu ke waktu dapat memberikan informasi lebih penting mengenai risiko gangguan pertumbuhan.
Dua Tahun Pertama Menjadi Periode Penting Pertumbuhan Anak
Trisna menilai dua tahun pertama kehidupan menjadi salah satu periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada fase tersebut, kebutuhan nutrisi dan stimulasi berperan besar dalam mendukung perkembangan anak.
Menurut data yang disampaikan Trisna, perkembangan otak telah mencapai sekitar 80 persen pada usia dua tahun. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 85 persen pada usia tiga tahun dan 95 persen pada usia enam tahun.
Karena itu, orang tua dan tenaga kesehatan perlu mengenali penyimpangan pertumbuhan sedini mungkin. Penanganan yang lebih cepat dapat membantu menentukan kebutuhan nutrisi, stimulasi, tata laksana, atau rujukan sesuai kondisi anak.
Deteksi dini juga memberi kesempatan lebih besar untuk mencegah masalah pertumbuhan berlanjut. Langkah tersebut penting terutama ketika perubahan pertumbuhan mulai terlihat pada masa awal kehidupan.
Weight Faltering Dapat Menjadi Tanda Awal Gangguan Pertumbuhan
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah perlambatan kenaikan berat badan atau weight faltering. Kondisi ini menunjukkan bahwa berat badan anak tidak mengalami peningkatan sesuai pola pertumbuhan yang diharapkan.
Trisna menjelaskan weight faltering dapat muncul sebelum gangguan pertumbuhan tinggi badan berkembang lebih lanjut. Jika tidak segera dievaluasi dan ditangani, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting.
“Awalnya memang underweight dulu. Weight faltering dulu,” ujar Trisna.
Proses tersebut menunjukkan bahwa stunting bukan kondisi yang muncul secara mendadak. Gangguan pertumbuhan dapat berlangsung bertahap sehingga pemantauan berat badan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Ketika berat badan anak mulai tidak sesuai dengan pola pertumbuhannya, orang tua sebaiknya melakukan evaluasi bersama tenaga kesehatan. Evaluasi diperlukan untuk mencari penyebab dan menentukan intervensi yang tepat.
Kurva WHO Membantu Menilai Status Pertumbuhan Anak
Kurva pertumbuhan WHO menjadi salah satu acuan yang dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan anak usia 0 hingga 5 tahun. Grafik tersebut membantu tenaga kesehatan dan orang tua melihat perkembangan anak berdasarkan sejumlah indikator pertumbuhan.
Indikator yang digunakan antara lain berat badan, panjang atau tinggi badan, serta indeks massa tubuh. Penilaian menggunakan satuan Z-score atau simpangan baku untuk melihat posisi pertumbuhan anak dibandingkan standar populasi rujukan.
Kurva tersebut dapat membantu mengidentifikasi apakah pertumbuhan anak berada dalam rentang yang sesuai atau menunjukkan penyimpangan. Namun, hasil pengukuran tetap perlu ditafsirkan secara tepat dan tidak sebaiknya digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan kondisi kesehatan anak.
Orang tua dapat memanfaatkan kurva pertumbuhan yang tersedia dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Pemantauan dapat dilakukan secara rutin melalui layanan kesehatan, termasuk dengan membawa catatan hasil pengukuran sebelumnya.
Pemantauan Rutin Mendukung Pencegahan Stunting Sejak Dini
Trisna menekankan pentingnya melihat kecenderungan pertumbuhan anak, bukan hanya mengandalkan satu kali pengukuran. Konsistensi pencatatan membuat perubahan pola pertumbuhan lebih mudah dikenali.
“Lakukan pemantauan pertumbuhan ini secara rutin dan berkala, sehingga kita bisa melakukan deteksi terhadap potensi masalah kesehatan maupun pertumbuhan, dan melakukan pencegahan maupun intervensi,” kata Trisna.
Dengan pemantauan yang teratur, orang tua dan tenaga kesehatan dapat mengambil langkah lebih cepat ketika muncul tanda gangguan pertumbuhan. Intervensi dapat disesuaikan dengan penyebab dan kebutuhan masing-masing anak.
Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam pencegahan stunting karena gangguan pertumbuhan dapat berlangsung secara bertahap. Mengenali perubahan sejak awal memberikan peluang untuk memperbaiki kondisi sebelum masalah berkembang menjadi lebih berat.
Karena itu, pemantauan berat badan, panjang atau tinggi badan, dan indikator pertumbuhan lainnya perlu dilakukan secara konsisten. Penggunaan kurva pertumbuhan WHO secara tepat dapat membantu orang tua memahami arah pertumbuhan anak dan mendorong pemeriksaan lebih lanjut ketika ditemukan penyimpangan.
baca juga: DPR RI: Literasi gizi orang tua kunci sukses cegah stunting lewat MBG




Leave a Reply