Mata Terbakar Matahari: Kenali Fotokeratitis dan Cara Mencegahnya
Paparan sinar ultraviolet (UV) berlebihan tidak hanya berdampak pada kulit, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan mata. Permukaan mata yang terkena radiasi UV terlalu lama dapat mengalami kerusakan dan memicu kondisi yang disebut fotokeratitis.
Kondisi ini kerap disebut sebagai “mata terbakar matahari” karena mekanismenya menyerupai luka bakar akibat paparan radiasi. Fotokeratitis terutama menyerang kornea dan konjungtiva, yaitu jaringan yang berada di bagian terluar mata.
Mengenal Fotokeratitis Akibat Paparan Sinar UV
Fotokeratitis terjadi ketika radiasi UV merusak sel pada permukaan mata. Mengutip Health, perawat Brandi Jones, MSN-Ed, RN-BC, menjelaskan bahwa kerusakan tersebut terutama mengenai kornea dan konjungtiva.
Kornea merupakan jaringan bening berbentuk kubah yang berada di bagian depan mata. Bagian ini berperan penting dalam memfokuskan cahaya agar penglihatan tetap jelas.
Sementara itu, konjungtiva merupakan selaput tipis yang melapisi bagian putih mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Kedua jaringan tersebut dapat mengalami iritasi ketika terpapar radiasi UV secara berlebihan.
Paparan UV Tidak Hanya Berasal dari Matahari Langsung
Sinar matahari menjadi sumber utama radiasi UV yang dapat memicu fotokeratitis. Namun, seseorang juga dapat terpapar UV melalui pantulan cahaya dari berbagai permukaan.
Beton, pasir, salju, es, dan air dapat memantulkan radiasi UV menuju mata. Kondisi tersebut membuat risiko meningkat meskipun seseorang tidak selalu menatap sumber cahaya secara langsung.
Risiko juga dapat bertambah ketika seseorang berada di wilayah berketinggian. Paparan UV dapat menjadi lebih signifikan dalam kondisi tertentu sehingga perlindungan mata tetap diperlukan saat beraktivitas di luar ruangan.
Sumber UV buatan juga perlu diwaspadai. Lampu UV, tanning bed, serta aktivitas pengelasan tanpa perlindungan mata yang memadai dapat menyebabkan kerusakan serupa pada permukaan mata.
Gejala Fotokeratitis Biasanya Muncul Beberapa Jam Setelah Paparan
Fotokeratitis umumnya mengenai kedua mata. Gejalanya tidak selalu muncul ketika paparan UV terjadi, tetapi dapat dirasakan sekitar enam hingga 12 jam setelah paparan.
Beberapa tanda yang perlu dikenali antara lain:
baca juga: Beiersdorf Indonesia Investasi Rp 1 Triliun Pabrik di Malang, Kapasitas Produksi Naik 50 Persen
- Mata terasa seperti kemasukan pasir.
- Mata terasa perih atau terbakar.
- Mata menjadi merah dan berair.
- Penglihatan tampak kabur.
- Mata lebih sensitif terhadap cahaya.
- Muncul lingkaran cahaya ketika melihat sumber terang.
- Kelopak mata mengalami pembengkakan.
- Sakit kepala dapat menyertai keluhan mata.
Pada kasus tertentu, fotokeratitis dapat menyebabkan gangguan penglihatan sementara. Kehilangan penglihatan atau perubahan kemampuan melihat warna juga dapat terjadi, meskipun kondisi tersebut tergolong jarang.
Keluhan umumnya membaik dalam satu hingga dua hari setelah paparan dihentikan. Namun, durasi dan tingkat keparahan gejala dapat berbeda pada setiap orang.
Langkah Pertolongan untuk Mengurangi Keluhan Mata
Ketika gejala muncul setelah paparan UV, mata sebaiknya diberikan waktu untuk beristirahat. Mengucek mata perlu dihindari karena tindakan tersebut dapat memperburuk iritasi pada permukaan mata.
Kompres dingin menggunakan kain bersih dan lembap pada mata yang terpejam dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. Penderita juga dianjurkan menghindari cahaya terang selama mata masih sensitif.
Pengguna lensa kontak sebaiknya segera melepasnya ketika mengalami keluhan. Air mata buatan tanpa bahan pengawet juga dapat digunakan untuk membantu mengurangi rasa kering dan tidak nyaman pada mata.
Langkah tersebut merupakan penanganan untuk membantu meredakan gejala. Pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila keluhan tergolong berat atau tidak kunjung membaik.
Kapan Fotokeratitis Membutuhkan Pemeriksaan Medis?
Tidak semua keluhan mata setelah terpapar UV dapat dianggap ringan. Pertolongan medis perlu segera dicari jika muncul nyeri berat, cedera mata, atau paparan bahan kimia.
Pemeriksaan juga diperlukan ketika nyeri hanya terjadi pada satu mata. Gejala yang bertahan lebih dari 48 jam juga menjadi alasan untuk mendapatkan evaluasi dari tenaga kesehatan.
Penurunan atau kehilangan penglihatan merupakan tanda yang tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan keluhan bukan disebabkan oleh gangguan mata lain yang membutuhkan penanganan berbeda.
Kacamata UV Menjadi Perlindungan Utama di Luar Ruangan
Fotokeratitis dapat dicegah dengan membatasi paparan UV dan menggunakan perlindungan mata yang sesuai. Kacamata hitam dengan perlindungan 100 persen terhadap UVA dan UVB atau label UV400 dapat membantu mengurangi paparan radiasi.
Kacamata sebaiknya menutupi mata dan area kulit di sekitarnya. Model yang lebih rapat dapat membantu mengurangi masuknya cahaya dari sisi kacamata.
Penggunaan kacamata hitam juga dapat dipadukan dengan topi bertepi lebar. Kombinasi perlindungan tersebut membantu mengurangi paparan langsung sinar matahari pada area wajah dan mata.
Gunakan Pelindung Khusus untuk Aktivitas dengan Risiko UV Tinggi
Perlindungan mata biasa tidak selalu cukup untuk aktivitas yang menghasilkan atau memantulkan radiasi UV dalam jumlah tinggi. Olahraga di lingkungan bersalju dan pekerjaan pengelasan membutuhkan perlindungan mata khusus sesuai risikonya.
Saat mengelas, gunakan pelindung mata atau helm las dengan tingkat perlindungan yang sesuai. Pekerja juga perlu mengikuti standar keselamatan kerja dan tidak melihat proses pengelasan secara langsung tanpa perlindungan.
Pada aktivitas di area bersalju, penggunaan kacamata khusus yang memberikan perlindungan UV juga penting. Permukaan salju dapat memantulkan radiasi UV sehingga paparan terhadap mata dapat meningkat.
Perlindungan Mata Perlu Menjadi Kebiasaan
“Mata terbakar matahari” bukan sekadar rasa tidak nyaman setelah berada terlalu lama di bawah sinar matahari. Fotokeratitis menunjukkan bahwa radiasi UV dapat menyebabkan kerusakan pada permukaan mata dan mengganggu penglihatan untuk sementara.
Karena itu, perlindungan mata sebaiknya menjadi bagian dari kebiasaan saat beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan kacamata dengan perlindungan UVA dan UVB, topi bertepi lebar, serta pelindung khusus untuk pekerjaan berisiko dapat membantu mengurangi paparan.
Mengenali gejala sejak awal juga penting agar keluhan dapat ditangani dengan tepat. Jika nyeri berat, gangguan penglihatan, atau gejala yang menetap muncul setelah paparan UV, pemeriksaan medis menjadi langkah yang lebih aman.
baca juga: Jangan remehkan mata yang kerap berair




Leave a Reply