Dokter Ingatkan Risiko Diet Tanpa Gula, Tubuh Tetap Membutuhkan Energi dari Karbohidrat
Tren diet tanpa gula semakin populer di kalangan masyarakat yang ingin menurunkan berat badan atau menjalani pola hidup lebih sehat. Namun, para ahli gizi mengingatkan bahwa menghilangkan gula dan karbohidrat secara total bukanlah langkah yang tepat karena tubuh tetap membutuhkan energi untuk menjalankan berbagai fungsi penting.
Baca Juga “Mungkin Sudah Waktunya Kamu Melakukan Diet Informasi“
Health Communicator Kalbe Nutritionals, Laurencia Ardi, menegaskan bahwa gula tidak harus dihilangkan sepenuhnya dari pola makan harian. Yang lebih penting adalah mengatur jumlah konsumsi gula agar tidak berlebihan dan tetap sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Menurutnya, banyak orang salah memahami konsep diet sehat dengan menganggap gula sebagai zat yang harus dihindari sepenuhnya. Padahal, gula merupakan bagian dari karbohidrat yang menjadi salah satu sumber energi utama bagi tubuh.
Gula dan Karbohidrat Berperan Penting Sebagai Sumber Energi
Laurencia menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan energi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, berolahraga, hingga berpikir. Energi tersebut sebagian besar berasal dari karbohidrat yang dikonsumsi melalui makanan.
Saat masuk ke dalam tubuh, karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa. Selanjutnya, glukosa digunakan oleh sel-sel tubuh sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi.
Tanpa asupan energi yang memadai, berbagai fungsi tubuh dapat terganggu. Kondisi ini berpotensi menurunkan produktivitas, mengurangi daya tahan tubuh, dan memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Karena itu, menghentikan konsumsi gula dan karbohidrat secara ekstrem tidak direkomendasikan, terutama jika dilakukan tanpa pengawasan tenaga kesehatan atau ahli gizi.
Otak Membutuhkan Glukosa untuk Mendukung Fungsi Kognitif
Selain berfungsi sebagai sumber energi fisik, glukosa juga memiliki peran penting dalam mendukung kinerja otak. Organ ini membutuhkan pasokan energi yang stabil untuk menjalankan berbagai proses kognitif.
Fungsi seperti konsentrasi, daya ingat, kemampuan belajar, dan pengambilan keputusan sangat bergantung pada ketersediaan glukosa dalam tubuh. Ketika asupan energi terlalu rendah, seseorang dapat mengalami kelelahan, sulit fokus, dan penurunan performa mental.
Karena alasan tersebut, para ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk tetap mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang cukup dan sesuai kebutuhan harian.
Pola Makan Seimbang Lebih Dianjurkan Dibanding Diet Ekstrem
Daripada melakukan cut off gula secara total, Laurencia menyarankan masyarakat menerapkan pola makan seimbang yang mengombinasikan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Konsep gizi seimbang yang dikenal melalui panduan “Isi Piringku” menempatkan karbohidrat sebagai salah satu komponen penting dalam menu harian. Dalam rekomendasi tersebut, karbohidrat menyumbang sekitar 40 hingga 60 persen dari total kebutuhan energi harian.
Selain karbohidrat, tubuh juga memerlukan protein untuk membangun dan memperbaiki jaringan, serta lemak sehat yang berperan dalam berbagai fungsi metabolisme.
Pola makan yang seimbang dinilai lebih efektif dalam menjaga kesehatan jangka panjang dibandingkan diet ekstrem yang menghilangkan satu kelompok nutrisi tertentu.
Batasi Gula Tambahan, Utamakan Sumber Karbohidrat Berkualitas
Meski tubuh membutuhkan gula, para ahli tetap mengingatkan pentingnya membatasi konsumsi gula tambahan yang berasal dari minuman manis, makanan olahan, dan camilan tinggi gula.
Sebagai alternatif, masyarakat dianjurkan memilih sumber karbohidrat yang lebih berkualitas seperti nasi, gandum utuh, oatmeal, kentang, ubi, buah-buahan, dan sayuran.
Jenis makanan tersebut tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga mengandung serat, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Dengan memilih sumber karbohidrat yang tepat, kadar gula darah dapat lebih stabil dan rasa kenyang bertahan lebih lama.
Edukasi Gizi Menjadi Kunci Menjalankan Diet yang Aman
Meningkatnya popularitas berbagai metode diet menunjukkan bahwa masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan. Namun, setiap pola makan sebaiknya dijalankan berdasarkan informasi yang benar dan sesuai kebutuhan individu.
Memahami peran gula dan karbohidrat dalam tubuh menjadi langkah penting agar diet tidak justru menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Pengurangan konsumsi gula berlebih memang diperlukan, tetapi penghentian total tanpa pertimbangan medis dapat menimbulkan risiko tertentu.
Ke depan, edukasi mengenai gizi seimbang dan pola makan sehat diharapkan semakin luas sehingga masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam menjalani program diet. Dengan pendekatan yang seimbang, tujuan menjaga berat badan dan kesehatan dapat tercapai tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi tubuh.
Baca Juga “Dietnya Sama, Kenapa Efeknya Tiap Orang Beda-beda? Ini Kata Dokter soal Nutrigenomik“




Leave a Reply