UAE Siapkan Strategi Keluar dari Ketergantungan Selat Hormuz Melalui Penguatan Infrastruktur Energi
Uni Emirat Arab (UAE) tengah menyusun strategi jangka panjang untuk mengurangi hingga menghapus ketergantungannya terhadap Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan energi. Langkah tersebut menjadi respons terhadap meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Teluk yang beberapa waktu terakhir mengganggu kelancaran pengiriman minyak dan gas dunia.
Menteri Perdagangan Luar Negeri UAE, Thani Al Zeyoudi, menyatakan bahwa pemerintah memiliki visi untuk mencapai “nol ketergantungan pada Hormuz.” Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan strategi besar dalam sistem logistik energi negara tersebut yang selama puluhan tahun bergantung pada jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga “AS-Iran Damai, Menlu Polandia: Insya Allah Selamanya“
Menurut laporan Bloomberg yang dikutip pada Rabu, rencana tersebut muncul ketika komunitas internasional masih menunggu pemulihan penuh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan perdamaian sementara antara Iran dan Amerika Serikat.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sebelum konflik terbaru di kawasan tersebut, sekitar 20 persen pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memperlihatkan tingginya risiko yang dihadapi negara-negara eksportir energi di kawasan Teluk. Kondisi ini mendorong UAE untuk mempercepat pembangunan jalur alternatif demi menjaga keamanan pasokan dan kelancaran perdagangan.
UAE Perluas Pelabuhan dan Bangun Jalur Alternatif untuk Ekspor Energi
Salah satu fokus utama strategi UAE adalah memperkuat pelabuhan yang berada di pantai timur negara itu, yakni Dibba, Fujairah, dan Khor Fakkan. Ketiga pelabuhan tersebut memiliki posisi strategis karena berada di Teluk Oman dan tidak bergantung langsung pada akses melalui Selat Hormuz.
Pemerintah UAE juga berencana membangun pelabuhan baru di kawasan pantai timur sebagai bagian dari jaringan perdagangan dan energi masa depan. Pelabuhan tersebut akan didukung oleh pembangunan jaringan pipa minyak, jalur kereta api, serta jalan raya yang menghubungkan wilayah produksi energi dengan fasilitas ekspor.
Saat ini, UAE telah memiliki pipa minyak yang menghubungkan ladang minyak utama dengan pelabuhan Fujairah. Infrastruktur tersebut mampu mengalirkan sekitar 1,5 juta barel minyak mentah per hari sehingga sebagian ekspor minyak dapat dilakukan tanpa melewati Selat Hormuz.
Pada pertengahan Mei, UAE mengumumkan percepatan pembangunan pipa minyak kedua yang ditargetkan selesai pada 2027. Kehadiran pipa tambahan ini diharapkan dapat menggandakan kapasitas ekspor minyak mentah melalui Fujairah dan memperkuat posisi negara itu sebagai pemasok energi global.
Selain pipa kedua, pemerintah juga mengkaji kemungkinan pembangunan pipa minyak ketiga serta berbagai solusi logistik lain untuk mendukung ekspor produk petrokimia, gas alam cair, dan berbagai komoditas energi lainnya.
Meski demikian, Al Zeyoudi belum memberikan rincian mengenai total biaya maupun jadwal pasti pelaksanaan proyek. Ia menjelaskan bahwa sejumlah proyek tersebut masih berada dalam tahap studi kelayakan dan diperkirakan membutuhkan investasi bernilai miliaran dolar AS.
Tantangan UAE Mengurangi Ketergantungan pada Selat Hormuz
Meski memiliki rencana ambisius, upaya menghilangkan ketergantungan terhadap Selat Hormuz bukanlah tugas yang mudah. Mengalihkan pengiriman gas alam cair, aluminium, serta berbagai komoditas nonminyak membutuhkan infrastruktur yang lebih kompleks dibandingkan ekspor minyak mentah.
Selain itu, UAE masih sangat bergantung pada pelabuhan yang berada di kawasan Teluk, terutama Pelabuhan Jebel Ali di Dubai. Pelabuhan tersebut merupakan salah satu pusat peti kemas terbesar di dunia dan berperan penting dalam kegiatan impor, ekspor, serta distribusi barang ke berbagai negara.
Karena alasan tersebut, transisi menuju sistem perdagangan yang sepenuhnya bebas dari ketergantungan terhadap Selat Hormuz akan membutuhkan waktu panjang, investasi besar, serta pengembangan jaringan logistik yang lebih terintegrasi.
Langkah Strategis UAE Hadapi Risiko Geopolitik Kawasan Teluk
Di tengah upaya diversifikasi jalur perdagangan, UAE tetap menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Pemerintah negara tersebut berulang kali menyatakan bahwa jalur pelayaran itu memiliki peran krusial bagi stabilitas ekonomi, keamanan energi, dan kelancaran perdagangan internasional.
Rencana mengembangkan pelabuhan alternatif dan infrastruktur energi di luar Selat Hormuz mencerminkan strategi jangka panjang UAE untuk mengurangi kerentanan terhadap konflik regional. Dengan memperluas akses ekspor melalui Teluk Oman, negara tersebut berupaya menjaga keandalan pasokan energi sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Ke depan, keberhasilan strategi ini akan bergantung pada kemampuan UAE menyelesaikan proyek infrastruktur besar, menarik investasi, serta membangun sistem logistik yang mampu mendukung perdagangan energi tanpa ketergantungan terhadap satu jalur pelayaran utama.
Baca Juga “Dubes: Kapal pertama armada perikanan RI rampung akhir tahun ini“




Leave a Reply