lolstatistics – Sanksi AS Rusia membuat India dan China mulai menahan impor energi, yang berpotensi mendorong harga global. Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan Amerika Serikat. Namun, ia mengakui sanksi baru dapat menimbulkan kesulitan ekonomi. Pernyataan ini muncul setelah laporan menunjukkan bahwa China dan India mulai mengurangi impor minyak Rusia, menyusul langkah Washington terhadap dua produsen minyak terbesar Moskow.
Pada Rabu (22/10/2025), Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil, serta hampir tiga lusin anak perusahaannya. Akibatnya, harga minyak dunia naik hingga lima persen. Sanksi ini bertujuan menekan sumber pendapatan minyak yang vital bagi pembiayaan perang Rusia di Ukraina. Selain itu, Uni Eropa menyetujui pelarangan bertahap impor gas alam cair (LNG) dari Rusia. Mereka juga menambahkan dua perusahaan penyulingan minyak China ke daftar sanksi.
Putin menilai sanksi AS sebagai tindakan tidak bersahabat yang tidak memperkuat hubungan kedua negara. Ia menekankan, “Tidak ada negara yang memiliki harga diri yang akan melakukan sesuatu di bawah tekanan.”
Lebih lanjut, Putin meminta pemerintahan Trump mempertimbangkan siapa yang diuntungkan dari sanksi minyak Rusia. Ia memperingatkan langkah tersebut bisa mendorong kenaikan harga energi global. Selain itu, Rusia akan memberikan respons yang kuat, bahkan luar biasa, jika diserang dengan rudal jelajah Tomahawk Amerika.
Secara keseluruhan, ketegangan antara Moskow dan Washington meningkat. Para analis memperkirakan harga minyak dan gas tetap tinggi, sementara negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina masih tertunda.
Baca Juga: “Harga Minyak Dunia Naik Tipis karena Sanksi AS ke Rusia“
India dan China Mulai Menahan Impor Energi Rusia Akibat Sanksi AS
Pada Kamis, muncul tanda awal bahwa dua pembeli energi terbesar Rusia menangguhkan impor mereka. Langkah ini terkait sanksi baru Amerika Serikat.
Reliance Industries, pembeli minyak Rusia terbesar di India, memberi sinyal akan mengurangi atau menghentikan sementara pembelian minyak. “Penyesuaian ulang impor minyak Rusia sedang berlangsung dan Reliance akan sepenuhnya menyesuaikan diri dengan pedoman pemerintah India,” ujar juru bicara perusahaan kepada Reuters.
Sumber lain mengatakan perusahaan minyak milik negara China menangguhkan pengiriman minyak mentah Rusia melalui laut, setidaknya untuk sementara. Mereka khawatir terkena dampak sanksi AS baru.
Sektor minyak dan gas menyumbang sekitar 20% dari PDB Rusia, sehingga penurunan mendadak permintaan dari dua pembeli utama itu menjadi pukulan berat bagi pendapatan Kremlin. Selain itu, penurunan pasokan berpotensi mendorong harga energi global meningkat.
China, sekutu dekat Rusia, dan India, yang berusaha netral dalam konflik Ukraina, sebelumnya mengabaikan tekanan Barat. Kedua negara menilai ancaman sanksi Barat relatif kosong dibanding keuntungan akses minyak mentah Rusia yang murah.
Namun, kepatuhan terhadap sanksi berarti mereka harus melepaskan minyak murah tersebut, yang selama ini membantu melindungi ekonomi dari lonjakan biaya energi global.
Para analis memperingatkan bahwa langkah ini menandai awal potensi perubahan pasar energi dunia, karena pembeli utama mulai menyesuaikan strategi impor mereka. Dampaknya tidak hanya terhadap Rusia, tetapi juga bagi harga energi global dan stabilitas ekonomi di Asia.
Baca Juga: “Reli Bitcoin: Investor Besar Akumulasi di Tengah Pasar Menguat“




Leave a Reply