lolstatistics – Harga perak kembali menjadi sorotan para investor pada Jumat, 10 Oktober 2025. Logam ini menarik perhatian karena berperan ganda sebagai aset lindung nilai dan komoditas industri. Kondisi ekonomi global yang dinamis membuat pergerakan harganya semakin relevan dipantau.
Di pasar internasional, harga perak naik 2,2 persen menjadi USD 50,21 per ons. Sebelumnya, logam ini mencapai rekor tertinggi USD 51,22 per ons. Kenaikan sepanjang tahun sudah mencapai 70 persen. Kontrak berjangka perak di Comex untuk pengiriman Desember 2025 berada di level USD 48,03. Reli ini sejalan dengan tren penguatan emas karena sentimen defisit pasokan dan peningkatan permintaan industri.
Menurut laporan berbagai analis komoditas, harga perak terdorong oleh kekhawatiran pasokan global yang semakin terbatas. Permintaan dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, dan perangkat elektronik juga memperkuat prospeknya. Faktor geopolitik dan tren investasi ikut memberi tekanan pada pasokan fisik.
Di dalam negeri, harga perak Antam turut mengalami kenaikan. Berdasarkan data logammulia.com, harga perak batangan dipatok Rp 26.850 per gram. Nilai ini naik Rp 150 dari harga sebelumnya di level Rp 26.700 per gram. Kenaikan ini menunjukkan keterkaitan erat pasar domestik dengan harga acuan internasional.
Ke depan, pelaku pasar memperkirakan volatilitas masih berlangsung. Prospek ekonominya bergantung pada arah kebijakan moneter global dan perkembangan industri yang menggunakan logam tersebut. Investor disarankan mencermati tren pasokan, nilai tukar, dan data manufaktur untuk menentukan strategi.
Baca Juga : “Citroen E-C4 Jadi Mobil Dinas Dubes Prancis di RI”
Faktor Ekonomi yang Mempengaruhi Harga Perak Saat Ini
Pergerakan harga perak global dan domestik tidak terjadi secara acak. Setiap perubahan mencerminkan respons pasar terhadap kondisi ekonomi dan industri. Investor memperhatikan logam ini karena karakternya yang fleksibel sebagai aset lindung nilai dan bahan baku manufaktur.
Harga emas global menjadi indikator penting. Kedua logam bergerak dalam arus sentimen yang serupa karena diperdagangkan di pasar internasional. Ketika emas menguat akibat tekanan ekonomi atau kebijakan moneter, harga perak biasanya mengikuti arah yang sama.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berpengaruh langsung pada harga perak di dalam negeri. Jika dolar menguat, harga perak dalam rupiah ikut naik. Hal ini terjadi meskipun harga internasional tidak berubah signifikan.
Permintaan industri memberi tekanan tambahan terhadap suplai. Perak banyak digunakan dalam panel surya, komponen elektronik, perangkat medis, dan perhiasan. World Silver Survey memperkirakan permintaan global akan melampaui pasokan untuk tahun kelima pada 2025. Tren ini memperkuat potensi kenaikan harga di pasar jangka menengah.
Dalam situasi geopolitik yang tidak stabil, investor mencari aset lindung nilai. Perak menjadi alternatif karena volatilitasnya lebih rendah dari komoditas energi. Namun, daya lindungnya masih berada di bawah emas dalam skala aset defensif.
Kebijakan suku bunga global juga memberi pengaruh jelas. Saat suku bunga turun atau ekspektasinya melemah, instrumen tanpa imbal hasil seperti perak menjadi lebih menarik. Kondisi ini membuka ruang bagi reli harga, terutama jika permintaan industri tetap kuat.
Ke depan, pelaku pasar memperkirakan kombinasi faktor makro dan produksi akan terus membentuk tren. Investor disarankan memantau kurs, perkembangan sektor energi, dan kebijakan bank sentral untuk menentukan strategi investasi yang adaptif.
Baca Juga : “Ferrari Luncurkan Amalfi, Mobil ‘Murah’ Pengganti Roma”




Leave a Reply