lolstatistics.com -Meta memproyeksikan lima tren digital akan tumbuh pesat pada 2026.
Tren tersebut dinilai mengubah cara bisnis membangun hubungan dengan pelanggan.
Country Director Meta untuk Indonesia, Pieter Lydian, memaparkan prediksi tersebut.
Ia menyebut perubahan perilaku digital akan semakin cepat dalam dua tahun ke depan.
Bisnis dituntut beradaptasi dengan teknologi yang lebih interaktif dan personal.
Pieter menjelaskan kecerdasan buatan dan otomatisasi menjadi fondasi utama.
AI membantu bisnis merespons pelanggan secara instan dan relevan.
Teknologi ini juga meningkatkan efisiensi operasional.
Tren kedua adalah business messaging melalui aplikasi pesan.
Konsumen ingin berkomunikasi langsung sebelum membeli produk.
Percakapan real time kini menjadi bagian penting dalam proses belanja.
Meta juga menyoroti AI-powered creator loop sebagai tren berikutnya.
Konten kreator memanfaatkan AI untuk memproduksi dan mengoptimalkan konten.
Interaksi antara kreator, AI, dan audiens semakin terintegrasi.
Video dan live commerce menjadi tren keempat.
Format ini memungkinkan konsumen melihat produk secara langsung.
Pengalaman visual dinilai meningkatkan kepercayaan dan keputusan pembelian.
Baca juga:“Jojo Putuskan Mundur dari Indonesia Masters 2026 Demi Jaga Kondisi Fisik”
AI Jadi Kunci Pengalaman Digital dan Dorong UMKM di Indonesia
Meta menilai kecerdasan buatan (AI) akan menjadi titik awal pengguna dalam menemukan informasi dan produk.
Pengguna dapat bertanya langsung kepada AI tentang kecocokan produk, riset, hingga rekomendasi gaya.
Di Indonesia, adopsi AI terlihat kuat, terutama di kalangan UMKM.
Data Meta menunjukkan 79 persen UMKM di Indonesia sudah menggunakan AI di platform digital.
Penggunaan ini fokus pada pemasaran (65 persen) dan layanan pelanggan (61 persen).
AI membantu bisnis memahami preferensi pelanggan dan merespons kebutuhan lebih cepat.
Dengan otomatisasi, proses operasional menjadi lebih efisien dan hemat biaya.
Teknologi ini juga meningkatkan produktivitas tim secara signifikan.
“Ke depan, lebih banyak proses akan otomatis. AI dapat membantu bisnis menghemat biaya dan meningkatkan produktivitas,” ujar Pieter Lydian.
Ia menekankan bahwa integrasi AI bukan hanya untuk perusahaan besar, tetapi juga UMKM.
Penerapan AI mencakup rekomendasi produk personal, analisis perilaku konsumen, dan optimasi kampanye digital.
UMKM yang memanfaatkan AI dapat bersaing lebih efektif dengan bisnis skala besar.
Ini juga mempercepat transformasi digital di pasar lokal.
Meta memprediksi tren AI akan terus berkembang hingga 2026.
Fitur percakapan dan rekomendasi berbasis AI diperkirakan menjadi standar interaksi digital.
Bisnis yang adaptif diprediksi akan lebih cepat meraih kepercayaan pelanggan.
Dengan dukungan AI, UMKM dapat meningkatkan pengalaman belanja online.
Konsumen mendapatkan layanan lebih responsif dan personal, meningkatkan retensi dan penjualan.
Meta Prediksi Lima Tren Digital yang Akan Bentuk Bisnis dan Perilaku Konsumen 2026
Meta memprediksi lima tren digital akan berkembang pesat pada 2026 dan mengubah cara bisnis berinteraksi dengan pelanggan.
Tren ini diperkirakan membentuk perilaku digital masyarakat dan strategi bisnis secara signifikan.
Country Director Meta untuk Indonesia, Pieter Lydian, memaparkan tren tersebut di Jakarta.
Lima tren utama mencakup kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi, business messaging, AI-powered creator loop, video dan live commerce, serta perdagangan lintas batas.
“Perubahan perilaku belanja bergerak sangat cepat. Konsumen ingin menilai kualitas dan mendapat rekomendasi instan. Semua difasilitasi AI dan chat,” ujar Pieter.
Menurutnya, interaksi langsung melalui aplikasi pesan kini menjadi bagian penting pengalaman belanja digital.
AI semakin menjadi titik awal pengguna dalam menemukan informasi dan produk.
Pengguna bisa menanyakan kecocokan produk, riset, hingga rekomendasi gaya secara instan.
Di Indonesia, adopsi AI di kalangan UMKM terlihat signifikan dan terus meningkat.
Data Meta menunjukkan 79 persen UMKM di Indonesia sudah memanfaatkan AI di platform digital.
AI digunakan terutama untuk pemasaran (65 persen) dan layanan pelanggan (61 persen).
“Ke depan, lebih banyak proses akan otomatis, membantu bisnis menghemat biaya dan meningkatkan produktivitas,” tambah Pieter.
Meta juga mencatat pergeseran dari interaksi statis ke percakapan digital melalui WhatsApp, Instagram DM, dan Messenger.
Konsumen kini lebih nyaman menanyakan ketersediaan barang, pengiriman, dan spesifikasi produk melalui chat.
Contohnya, chatbot WhatsApp milik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mampu menyelesaikan 80 persen pertanyaan publik dan meningkatkan produktivitas empat kali lipat.
Baca juga:”Sekjen NATO Pilih Diam Soal Ketegangan AS-Denmark Atas Greenland”




Leave a Reply