lolstatistics – Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan menggunakan donasi sebesar USD 130 juta dari sekutu Presiden Donald Trump untuk membayar gaji anggota militer. Langkah ini dilakukan di tengah penutupan pemerintahan (government shutdown) yang menghentikan pendanaan publik untuk militer. Kementerian Pertahanan AS mengonfirmasi donasi tersebut pada Jumat (24/10/2025). Dana diterima berdasarkan wewenang kementerian untuk menerima hadiah atau donasi.
Langkah ini berbeda dari prosedur normal, yang biasanya mengandalkan dana publik yang disetujui oleh Kongres. Total donasi USD 130 juta hanya cukup menambah sekitar USD 100 per anggota dari 1,3 juta personel militer aktif. Meski demikian, tindakan ini menimbulkan pertanyaan tentang identitas dan motif sang donatur.
Para legislator di Kongres dari kedua partai mengatakan mereka tengah meminta rincian tambahan tentang donasi tersebut. Hingga kini, pemerintah belum memberikan penjelasan resmi. Pihak Demokrat menyoroti potensi masalah legalitas, karena wewenang penerimaan hadiah Pentagon biasanya hanya diperbolehkan untuk sekolah militer, rumah sakit, pemakaman, atau dukungan bagi tentara yang terluka atau keluarga mereka. Donasi dari individu asing juga bisa menghadapi pembatasan hukum lebih ketat.
“Penggunaan donasi anonim untuk mendanai militer menimbulkan pertanyaan serius: apakah pasukan kita berisiko ‘dibeli’ oleh pihak luar,” kata Senator Chris Coons, anggota Demokrat senior di subkomite alokasi pertahanan Senat. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran tentang integritas pendanaan militer selama krisis penutupan pemerintah.
Ke depan, Kongres kemungkinan akan meninjau ulang mekanisme penerimaan donasi untuk memastikan transparansi dan legalitas. Pemerintah AS menghadapi tekanan untuk menyelesaikan shutdown sambil menjaga stabilitas gaji personel militer, yang merupakan tulang punggung pertahanan nasional.
Baca Juga: “Donald Trump Joget Bareng Penari Tradisional di Malaysia“
Kontroversi Donasi USD 130 Juta untuk Militer Saat AS Shutdown Memicu Kekhawatiran Hukum
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menggunakan donasi sebesar USD 130 juta dari seorang sekutu Donald Trump untuk membayar gaji militer selama AS Shutdown. Langkah ini menimbulkan pertanyaan hukum dan etika terkait penggunaan dana pribadi untuk menggantikan anggaran publik.
Para ahli anggaran menyoroti potensi pelanggaran Undang-Undang Antideficiency (Antideficiency Act). Undang-undang ini melarang lembaga federal menggunakan dana melebihi alokasi yang telah ditetapkan. Partai Demokrat menuduh pemerintahan sebelumnya melanggar aturan tersebut, termasuk keputusan untuk memberhentikan ribuan pegawai federal selama penutupan pemerintahan.
“Undang-Undang Antideficiency secara jelas menyatakan bahwa donasi pribadi tidak boleh menutupi kekurangan akibat penghentian alokasi anggaran,” kata Bill Hoagland, mantan penasihat anggaran Partai Republik di Senat. Ia menambahkan, “Mereka boleh menerima donasi, tapi tidak boleh menggunakannya untuk tujuan itu.”
Presiden Trump pada Kamis (23/10) memuji sumbangan tersebut, menyebutnya berasal dari “seorang teman saya dengan tujuan menutupi kekurangan dana militer.” Ia menolak mengungkap identitas donatur, dengan alasan donatur ingin tetap anonim.
Gedung Putih merujuk pertanyaan tentang identitas donatur kepada Pentagon dan Kementerian Keuangan, namun kedua lembaga itu belum memberikan jawaban resmi. Pentagon menyebut donasi sebagai kontribusi “anonim” dan tidak menjelaskan rencana pelaporan rinciannya ke Kongres.
Ke depan, Kongres kemungkinan akan meninjau penggunaan donasi ini untuk memastikan kepatuhan hukum dan transparansi. Diskusi ini menyoroti tantangan etika dan legal dalam mendanai militer selama penutupan pemerintah, serta tekanan terhadap pemerintahan untuk menjaga integritas anggaran publik.
Baca Juga: “Fitur Baru Spotify: Lacak Konser Sesuai Genre Favorit“




Leave a Reply