Harga Minyak 7 Nov 2025 Turun, Cek Update Terbaru

Harga Minyak 7 Nov 2025 Turun, Cek Update Terbaru

lolstatistics – Harga minyak dunia kembali mencatat penurunan pada perdagangan Kamis waktu AS (Jumat, 7 November 2025 waktu Jakarta). Investor menilai pasar berpotensi mengalami kelebihan pasokan di tengah melemahnya permintaan dari Amerika Serikat sebagai konsumen minyak terbesar.


Harga minyak Brent turun sebesar 0,22% menjadi USD 63,38 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,29% dan ditutup pada USD 59,43 per barel. Penurunan ini memperpanjang tren negatif selama tiga bulan terakhir. Tekanan terjadi karena produksi meningkat dari negara OPEC+ dan produsen non-OPEC. Kenaikan produksi tersebut memicu kekhawatiran bahwa pasokan dapat melampaui kebutuhan pasar global.


Analis energi John Kilduff dari Again Capital menyebut kondisi pasar saat ini sebagai periode dengan “kelebihan pasokan paling jelas dalam sejarah.” Ia menilai situasi ini menjadi faktor utama yang menahan harga. Melemahnya permintaan juga menambah tekanan pasar. Data terbaru menunjukkan permintaan global hanya naik 850.000 barel per hari sejak awal tahun hingga 4 November. Angka itu berada di bawah proyeksi JPMorgan yang memperkirakan kenaikan 900.000 barel per hari. Pada hari sebelumnya, Badan Informasi Energi AS melaporkan peningkatan stok minyak mentah sebesar 5,2 juta barel, sehingga total mencapai 421,2 juta barel. Peningkatan stok menunjukkan konsumsi kilang belum pulih secara optimal.


Pelaku pasar kini menunggu keputusan OPEC+ terkait langkah stabilisasi pasokan. Jika produksi tetap tinggi dan permintaan tidak pulih, tekanan harga kemungkinan berlanjut. Kinerja harga minyak dalam beberapa pekan ke depan akan sangat bergantung pada data permintaan dari AS dan arah kebijakan produksi global.

Baca Juga: “Larangan Impor Baju Bekas: Menkeu Purbaya Tegaskan, Tangkap!“

Arab Saudi Turunkan Harga Minyak untuk Pembeli Asia


Arab Saudi menurunkan harga minyak mentah untuk pengiriman Desember ke pasar Asia. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga daya saing penjualan di tengah pasar yang mulai kelebihan pasokan.


Sebagai produsen utama dalam OPEC+, Arab Saudi menyesuaikan harga jual resmi (OSP) setelah negara anggota dan mitra OPEC+ meningkatkan produksi. Kelebihan pasokan membuat pembeli memiliki lebih banyak pilihan sehingga tekanan pada harga meningkat. Asia merupakan pasar terbesar bagi Arab Saudi, sehingga penyesuaian harga menjadi strategi penting dalam menjaga pangsa pasar. Penurunan harga ini menandai pergeseran kebijakan setelah beberapa bulan fokus pada upaya menopang harga melalui pemangkasan produksi.

Lembaga riset Capital Economics menyatakan bahwa tekanan penurunan harga diperkirakan masih berlanjut. “Kami memperkirakan harga minyak berada di bawah USD 60 per barel pada akhir 2025 dan turun ke USD 50 pada akhir 2026,” tulis mereka dalam laporan resmi. Analis juga menyoroti dinamika geopolitik yang memengaruhi pasar. Dua minggu lalu, sanksi baru terhadap perusahaan minyak Rusia, termasuk Lukoil, memicu potensi gangguan pasokan. Namun Onyx Capital Group menilai dampaknya belum signifikan. “Ada sedikit dampak pada harga, tetapi tidak terlalu besar,” ujar Jorge Montepeque, analis energi senior.


Pelaku pasar kini memantau dua faktor utama: perkembangan produksi OPEC+ dan efek nyata dari sanksi Rusia. Jika produksi tetap tinggi dan permintaan global tidak meningkat, harga minyak berpeluang terus tertekan. Keputusan Arab Saudi dapat menjadi pemicu strategi penyesuaian harga dari produsen lain dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga: “OpenAI Luncurkan Fitur diSora Video AI dengan Hewan Peliharaan“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *